Follow Us @tiyov

Tuesday, November 15, 2016

5 Cara Mengetahui Berita Hoax di Media Sosial

11:42 AM 0 Comments
Berita hoax alias berita bohong atau enggak jelas kebenarannya memang semakin marah tersebar belakangan ini. Sejak pengguna Facebook semakin banyak, semakin banyak pula “media” abal-abal yang menyebarkan berita hoax tentang berbagai hal. Segala kalangan, semua hal yang ada di dunia ini, kayanya enggak pernah luput dari pantauan para penyebar berita hoax ini. Salah satunya yang baru-baru ini tersebar adalah berita hoax tentang arti Pokemon yang ngasal banget dan enggak berdasar.
Berita hoax biasanya hadir karena kebencian seseorang atau suatu pihak kepada suatu hal. Karena enggak suka, disebar aja berita hoax tentang hal yang dia benci itu dengan tujuan mendulang dukungan alias cari temen. Padahal enggak ada kebaikan yang bisa didapatkan dari kebohongan, apalagi menjurus ke fitnah, guys. Kalau lo ikutan nyebar berita hoax itu, khususnya yang bernada negatif penuh kebencian, dengan kata lain lo juga udah ikut menebar kebohongan; ikutan bohong juga. Jadilah pembaca yang cerdas yang selalu mengecek berita yang lo baca. Biar enggak “keblinger”, Viki kasih tau cara mendeteksi berita hoax yang sering tersebar, baik di Facebook maupun broadcast message.

1. Cari sumber utama.
Berita dari mana pun, bahkan media yang udah terkenal dan sering di-share beritanya di Facebook sekalipun, kalau sumber beritanya enggak jelas, patut lo pertanyakan kebenarannya. Caranya gampang, tinggal lo cari aja sumber utamanya. Sekarang teknologi udah semakin canggih. Lo bisa akses Mbah Google buat cari tau kebenaran beritanya. Misal, ada berita tentang Masashi Kishimoto, mangaka Naruto, meninggal. Berita ini sempat tersebar beberapa waktu lalu dan ternyata cuma berita hoaxmenyambut April Mop. Lo bisa cari di Mbah Google dengan masukin keywords “masashi kishimoto meninggal”.

Saat diklik, harusnya berita teratas yang muncul adalah berita tentang meninggalnya Masashi Kishimoto. Ternyata, berita teratas malah bahas mukanya Kakashi. Ada, sih, yang bahas berita meninggalnya Masashi Kishimoto, tapi cuma dari blog netizen.


Ingat, sejauh ini, berita yang terpercaya adalah berita dari media resmi. Jadi, carilah sumber utama dari media resmi. Kalau beritanya tentang artis luar negeri atau konflik di luar negeri, sebisa mungkin cari berita dari negara asalnya atau dari media berbahasa Inggris yang terpercaya. Dengan begitu, lo bakal jadi lebih pinter dari yang bikin dan nge-share berita hoax tersebut.

2. Cek gambar yang tersebar



Enggak jarang “berita-berita” bernada konspirasi yang disebarluaskan dari status seseorang di Facebook didukung judul yang memprovokasi dan gambar yang bikin geram. Tapi, enggak jarang juga ternyata foto yang disebarkan sama “berita” yang ditulis sebenarnya enggak ada hubungannya. Kalau soal ini, supaya tau benar atau enggak, lo bisa cek gambarnya langsung; lagi-lagi di Google. Lo cuma perlu buka Google Imageupload gambar yang ada di “berita” itu, lalu lihat berita yang ada di halaman pertama. Berita yang muncul adalah berita lain yang pernah menggunakan gambar yang sama. Lo tinggal lihat aja tanggal beritanya. Lo lihat situs yang paling duluan pakai gambar itu dan lihat beritanya. Kalau beda banget sama yang disebar tadi, udah jelas “berita” itu hoax.

3. Waspada sama ajakan untuk menyebarkan.



Hati-hati kalo udah lihat broadcast message tentang apa pun yang ujung-ujungnya diakhiri dengan tulisan, “sebarkan!”. Biasanya “berita” semacam ini berupa nasihat, imbauan, sampai “dakwah” yang didukung dengan kutipan ayat-ayat tertentu. Biarpun ada kutipan ayatnya, bukan berarti lo jadi lalai untuk enggak mengecek kebenarannya. Intinya, kalo ada yang bilang sebarkan, jangan main sebar aja. Cek dulu kebenarannya.

4. Hati-hati sama referensi palsu.


Untuk meyakinkan para pembaca berita hoax ini, enggak jarang penulisnya yang entah terlalu pintar atau kurang kerjaan, sengaja mencantumkan nama ahli atau profesor yang bersangkutan sama “beritanya”. Misalnya, yang baru-baru ini terjadi, adalah informasi yang tersebar melalui broadcast message (yang sampai heboh juga di Facebook) mengenai pendapat seorang profesor sekaligus Dekan UGM, Tina Afiatin. Isinya adalah hujatan dari Tina Afiatin kepada Pokemon GO yang katanya bisa bikin intelijen Amerika tau kondisi masjid dan sebagainya. Ternyata, Tina Afiatin bukan Dekan UGM, (beliau cuma dosen, bukan dekan) dan yang bersangkutan juga mengaku enggak pernah menyebarkan tulisan semacam itu. Melihat tulisannya yang pakai kata-kata kasar gitu, Viki udah yakin enggak mungkin seorang dosen yang nulis, apalagi ini dosen UGM. Double check is a must, guys!

5. Seringkali bernada negatif.


Via Istimewa
Berita hoax seringkali bernada negatif. Entah membeberkan pemerintahan, menghujat suatu kaum, atau menjelek-jelekkan sesuatu dengan dalih keagamaan. Tapi, berita hoaxenggak selalu bernada negatif. Ada juga berita hoax yang tersebar dengan melebih-lebihkan suatu peristiwa tertentu yang sedang booming. Misalnya, saat masa penerimaan mahasiswa baru, beredar informasi melalui WhatsApp tentang jalur khusus penerimaan mahasiswa UI (tanpa tes) untuk mereka yang hafal Alquran. Ternyata, tak ada sama sekali jalur masuk seperti yang disebutkan. Ada lagi informasi tentang operasi penyakit tertentu gratis di sebuah rumah sakit. Seringkali pihak rumah sakit enggak tau sama sekali soal informasi ini. Kasihan kan kalo ada yang udah terlanjur percaya informasi yang lo sebar, padahal sebenarnya enggak benar. Jadi, cek terus kebenarannya sebelum lo yakin perlu disebar.
Mungkin banyak dari lo yang bilang, “Hoax atau enggak ya biarin aja. Enggak ada hubungannya sama gue.” Ini salah banget. Sebagai pembaca dan penerima berita, lo juga harus kritis supaya enggak gampang terprovokasi dan percaya informasi yang belum tentu benar. Jadilah netizen yang cerdas, jangan cuma modal copy paste. Kalo dari sekarang sudah modal copy paste aja, ya  jangan salahin pemerintah kalo Indonesia sampai sekarang enggak berkembang.
Penulis: Iruna Ireuna

Thursday, November 10, 2016

Lembaga Riset Inggris Ungkap Fakta Baru Soal Rokok Elektrik

4:09 PM 0 Comments
Jakarta, CNN Indonesia 

Public Health England, lembaga riset pemerhati kesehatan telah melakukan kajian atas dampak konsumsi rokok elektrik yang di Inggris telah mencapai angka 2,8 juta orang. Hasilnya, rokok elektrik sudah tepat dijadikan alternatif bagi para perokok karena memiliki risiko kesehatan yang jauh lebih rendah dibandingkan rokok konvensional.

Menurut kajian Public Health England, tidak ada bukti yang menunjukkan adanya bahaya dari paparan uap rokok elektrik bagi perokok pasif. Selain itu, rokok elektrik juga tidak terbukti mampu memicu munculnya perokok-perokok baru.

Dirilisnya hasil kajian tersebut pada awal bulan ini menarik perhatian Achmad Syawqie, pendiri Yayasan Pemerhati Kesehatan Publik Indonesia yang tengah melakukan riset terkait kandungan dan dampak konsumsi rokok elektrik terhadap kesehatan.

“Beberapa bukti kajian telah menunjukkan rokok elektrik lebih rendah bahayanya dibandingkan dengan rokok konvensional,” kata Achmad, dikutip Kamis (21/7).

Ia menambahkan sejak awal maraknya konsumsi rokok elektrik, banyak kelompok masyarakat di Indonesia yang takut pada keberadaan rokok elektrik karena dinilai lebih berbahaya daripada rokok konvensional. 

“Sayangnya opini ini sering kali tidak sesuai dengan bukti kajian ilmiah,” keluhnya.


Dia menjelaskan, apabila kebijakan kemasan polos rokok dapat mengurangi potensi perokok baru dan memperlambat angka kematian dalam 35-50 tahun ke depan, maka konsumsi rokok elektrik diyakini dapat memperbaiki kesehatan 1 miliar perokok dalam 10-20 tahun. 

Sumber: http://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20160723014619-92-146472/lembaga-riset-inggris-ungkap-fakta-baru-soal-rokok-elektrik/

Friday, September 16, 2016

Bahaya Vaporizer (Rokok Elektrik)

11:14 AM 1 Comments
Banyak orang yang bertanya tanya tentang faktor kesehatan, manfaat dan bahaya vaporizer atau rokok elektrik. Dibawah ini ada beberapa list penelitian yang bisa dijadikan rujukan tentang rokok elektrik (Vaporizer). keep safe and vape on…

Penelitian mengenai manfaat rokok elektrik (Vaporizer)

2013 Tobacco Control Study – Mengganti rokok analog (sebutan untuk rokok tembakau) dengan rokok elektrik atau vaporizer/ vape secara substansial dapat mengurangi efek negatif beberapa jenis rokok tembakau
2013 Drexel University Study – Bahan Kimia yang ditemukan di rokok elektrik tidak mengganggu kesehatan.
2013 ClearStreami-Life Study – Penelitian ini menemukan bahwa rokok elektrik/vape memiliki bahan berbahaya lebih sedikit dari yang ditemukan di rokok analog.
2012 Indoor Air Study – Membandingkan vape/rokok elektrik dengan tembakau, dan menyimpulkan bahwa vaporizer mengandung lebih sedikit volatile organic compounds (VOCs) daripada rokok tembakau.
2010 Journal of Public Health Study – Penelitian ini mengemukakan bahwa level carnicogen yang ditemukan di vaporizer lebih sedikit dari rokok tembakau.

Penelitian mengenai bahaya perokok pasif rokok elektrik (Vaporizer):

2014 Drexel University Study– menemukan bahwa tidak ditemukannya bahaya langsung pada perokok pasif rokok elektrik, bahkan dalam kasus yang terburuk sekalipun.
2013 Oxford Universty Press Study – Menggunakan vape di dalam ruangan memang bisa meninggalkan jejak nikotin di perokok pasif e-cig, akan tetapi, tidak meninggalkan racun pembakaran yang terdapat pada vape.
2012 CleanStream-Air Study – Mengevaluasi e×ect dari perokok pasif vape, dan menemukan bahwa tidak adanya substansi racun atau carcinogen yang terdeteksi.
2012 Inhalation Toxicology Study – memtutuskan bahwa tidak ditemukannya resiko kesehatan yang terlihat jelas dari pembakaran rokok elektrik. Keefektifan rokok elektrik (Vaporizer) sebagai pengganti rokok:
2014 Addiction Journal Study – dari beberapa perokok yang berusaha untuk berhenti, mereka yang menggunakan rokok elektrik merasa lebih dapat menahan keinginan mereka daripada yang tidak menggunakan vape.
2013 Addictive Behaviors Study – e-cig dapat menahan rasa ingin merokok bagi mantan perokok dan mengurangi efek kecanduan pada perokok.
2013 Lancent Medical Journal Study -menemukan bahwa rokok elektrik terbukti efektif dalam membantu perokok untuk berhenti, dengan tingkat yang sama seperti nicotine patches.
2013 PLoS ONE Study – Vape mengurangi konsumsi rokok dan mengurangi ketergantungan perokok pada rokok tembakau tanpa menimbulkan efek samping yang signifikan.
2012 Society for Research on Nicotine and Tobacco – beberapa rokok elektrik menyalurkan level nikotin yang sama dan mengurangi combustion toxicants setelah berganti dari rokok tembakau. 2011 Boston University Study – rokok elektrik mengurangi keingin perokok untuk meroko, efek yang sama yang juga dihasilkan oleh nicotine inhalers.
2011 BioMed Central Public Health Study – menyimpulkan bahwa para perokok secara bertahap mengurangi konsumsi rokok tembakau mereka (tanpa efek samping yang signifikan ) dengan rokok elektrik.
2010 Tobacco Control Study – Menemukan bahwa rokok elektrik mengurangi keinginan mantan perokok tembakau untuk meroko dan memiliki ‘pharmacokinetic profile’ seperti yang ditemukan di Nicorette inhalator leebih banhyak dari yang ditemukan di tembakau.  

Penetlitian kesehatan mengenai rokok elektrik (Vaporizer) lainnya:

2014 BMC Cardiovascular Disorders Study – Menemukan bahwa rokok elektrik tidak memiliki efek negatif langsung pada system kardiovaskular dan fungsi jantung.
2014 IJERP Health Survey – Survey dengan menggunakan lebih dari 19.000 vaper ini menemukan bahwa hampir dari 75% responden melaporkan bahwa mereka merasa lebih sehat setelah beralih ke rokok elektrik dari rokok tembakau. Contohnya peningkatan pada stamina, pernapasan, indra perasa, indra pencium dan lain lain.
2013 Inhalation Toxicology Study – Paru paru memang lemah terhadap rokok traditional akan tetapi vape tidak memiliki impact dan tidak menyalurkan tingkat nikotin yang sama dengan rokok tembakau.
2012 Onassis Cardiac Surgery Center Study – Berdasarkan data yang tersedia, rokok elektrik tidak memiliki efek merugikan terhadap jantung..
2009 Universty of Alberta Study – 95% dari responden dalam survey secara online melaporkan bahwa kesehatan mereka, kemampuan berolahraga, dan indra perasa menjadi lebih baik sejak penggunaan personal vaporizer. Penelitian mengenai bahaya rokok elektrik (Vaporizer):
2014 Journal of Environmental Science Study – Meskipun jumlah bahan kimia berbahaya yang ditemukan di rokok elektrik lebih sedikit dibandingkan rokok tembakau, chromium dan nickel ditemukan 4 kali lebih lipat dalam beberapa jenis rokok elektrik yang tidak ada di rokok tembakau.
2014 Roswell Park Cancer Institute Study – liquid vape dan voltase pada baterai memiliki komponen yang berbahaya, dan akan semakin berbahaya pada device yang memiliki high-voltage.
2014 JAMA Network Study – menemukan bahwa penguna e-cigarette tidak berhenti sebanyak mereka yang tidak menggunakan rokok elektrik. Akan tetapi riset ini memasukkan semua perokok, bahkan penelitian ini menggunakan mereka yang tidak punya keinginan untuk berhenti merokok sebagai responden penelitian. – penelitian ini mengklaim bahwa rokok elektrik mampu merusak paru-paru karena vape mengurangi oksigen yang diambil oleh darah. Limited research!
2012 Society of Research on Nicotine and Tobacco – rokok elektrik mengandung nikotin, akan tetapi penelitian ini dibantah dengan fakta bahwa ada beragam jenis brand dan model liquid yang bisa dipilih dari yang bernikotin sampai nikotinnya nol.
2012 Chest Journal Study – penggunaan e-cig dalam jangka pendek dapat meningkatkan impedansi, airway flow resistance, dan oxidative stress.
2009 Tobacco Control Study – mengemukakan bahwa e-cigs tidak efektif dalam penyaluran nikotin dan menghilangkan keergantungan terhadap nikotin Karena nikotin yang terkandung dalam e-cigs (dari dua sample perusahaan) lebih sedikit dibandingkan rokok tembakau.
2009 FDA Study of E-Cig Cartridges – Meskipun penelitian ini belum lah memberikan suatu kesimpulan, penelitian ini sering disebut-sebut di banyak media. Penelitian ini mengevaluasi sampel dari dua perusahaan.

Terimakasih